Resensi Buku “The Girl Who Saved The King of Sweden” by Jonas Jonasson

Jika anda mencari sebuah buku yang memiliki segalanya, mulai dari Afrika, Swedia, romantika dan raja raja dilengkapi dengan bom atom dengan daya ledak 3 megaton, krisis identitas, krisis mental dan penipuan yang melibatkan keramik angsa antik dari dinasti Han … maka The girl who saved the king of sweden dari Jonas Jonasson adalah buku yang tepat untuk anda.

Seperti buku yang sebelumnya, The 100 year old man who climbed out of window and disappear (iyeh, si pak Jonasson ini suka kali judul yang panjang, judulnya aja udah kayak cerita gimana ceritanya sendiri kan?), buku ini juga lucu banget. Tetapi menurut saya, untuk buku yang kedua ini dibutuhkan lebih banyak backround knowledge di bidang ekonomi, sosial, geografi, dan juga event-event “penanda sejarah” yang terkait dengan
Nelson Rolihlahla Mandela, Muammar Gaddafi, dan bahkan
Mantan Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Hu Jintao. Saya pribadi (yang menurut saya termasuk rajin baca baca koran dan mendengar dunia dalam berita :D) cukup kesulitan juga mengikuti setiap detil nya. Saya pikir Pak Jonasson sebagai mantan jurnalis yang beralih profesi jadi penulis fiksi, kurang memperhatikan pembaca seperti saya, yang ketika membaca novel berbahasa Inggris pun sudah menjadi tantangan tersendiri, ditambah dengan detil cerita yang mengangangkat kejadian kejadian bersejarah dari seluruh dunia.

The girl who saved the king of Sweden, The girl disini adalah Nombeko. Gadis yang lahir di kawasan kumuh di Soweto di bagian barat kota Johannesburg, Afrika Selatan. Di ulang tahun yang ke 11 dia akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan berjalan kaki, dan tidak lama ditabrak mobil seorang insinyur delusional. Karena kesalahan ini.. Nombeko mesti menjadi pembantu si engineer delusional selama 7 tahun, wait.. what? yang ditabrak kok malah dihukum.. well c’est la vie darling.. Life is not fair, and it will never be.. get used with it and be grateful for that. Ini yang membuat buku ini sangat keren.. kepahitan hidup bukan untuk ditangisi, ketidak adilan dari segala yang di sekitar kita juga bukan untuk di sesali.. Semua yang terjadi, memang harus terjadi.

tag line buku ini sangat keren..

See… Keren kan? Saya belum selesai membaca nya, sedikit lagi.. sekitar 40 halaman lagi… dan saya sangat tidak sabar untuk menyelesaikan buku itu. 😀

Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s